Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah

Oke, buku yang baru saya selesei saya baca berjudul “Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah” karya Bang TereLiye. Dan seperti biasa, tulisan bang Tereliye selalu berhasil menguras emosi saya. Buku ini bercerita tentang anak Pontianak bernama Borneo yg kerap dipanggil Borno. Borno jatuh cinta pada salah seorang penumpang sepitnya yang meninggalkan sebuah amplop berwarna merah alias Angpau yang awalnya dikira hanya Angpau biasa. Borno selalu menjadi antrean sepit no 13 untuk bertemu dengan Gadis itu yang akhirnya diketahui namanya adalah Mei.

Intinya buku ini menceritakan tentang pencarian cinta sejati. Buku ini juga mengajarkan untuk tidak merusak “Cerita” yang sudah disusun oleh Allah untuk menemukan Cinta. Buku ini recomended banget buat kamu yang suka galau menunggu jodoh. Ada beberapa Quote yang saya suka dari novel ini. Mau tau? Cekidot…

“Cinta sejati selalu menemukan jalan, Borna. Ada saja kebetulan, nasib, takdir, atau apalah sebutannya. Tapi sayangnya, orang-orang yang mengaku dirundung cinta justru sebaliknya, selalu memaksakan jalan cerita, khawatir, cemas, serta berbagi perangai norak lainnya. Tidak usahlah kau gulana, wajah kusut. Jika berjodoh, Tuhan sendiri yang akan memberikan jalan baiknya. Kebetulan yang menakjubkan…”

-Pak Tua-

“Borno, cinta hanyalah segumpal perasaan dalam hati. Sama halnya dengan gumpal perasaan senang, gembira, sedih, sama dengan kau suka gulai kepala ikan, suka mesin. Bedanya, kita selama ini terbiasa mengistimewakan gumpal perasaan yang disebut cinta. Kita beri dia porsi lebih penting, kita besarkan, terus menggumpal membesar. Coba saja kaucueki, kalulupakan, maka gumpal cinta itu juga dengan cepat layu seperti kau bosan makan gulai kepala ikan…”

-Pak Tua_

2 thoughts on “Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *