puisi cinta ala anak akuntansi

Ini puisi di dapetin dari salah satu temen di tumblr…
Bikin ‘getek’ dan ketawa ngakak… :))

Wahai Kekasihku..
Debetlah cintaku di neraca hatimu
Kan ku jurnal setiap transaksi rindumu
Hingga setebal Laporan Keuanganku

Wahai kekasih hatiku…
Jadikan aku manager investasi cintamu
Kan ku hedging kasih dan sayangmu
Di setiap lembaran portofolio hatiku
Bila masa jatuh tempo tlah tiba
Jangan kau retur kenangan indah kita
Biarlah ia bersemayam di Reksadana asmara
Berkelana di antara Aktiva dan Passiva

Wahai mutiara kalbu ku
Hanya kau lah Master Budget hatiku
Inventory cintaku yang syahdu
General Ledger ku yang tak lekang ditelan waktu

Wahai bidadariku
Rekonsiliasikanlah hatiku dan hatimu
Seimbangkanlah neraca saldo kita
Yang membalut laporan laba rugi kita..
Dan cerahkanlah laporan arus kas kita selamanya
Jika di hari closing nanti, Tidak ada kecocokkan saldo..
mungkin cinta kita harus dijurnal balik…
adakah jurusan lain yang bisa buat puisi seperti ini?

11 thoughts on “puisi cinta ala anak akuntansi”

  1. Archimedes dan Newton tak akan mengerti

    Medan magnet yang berinduksi di antara kita

    Einstein dan Edison tak sanggup merumuskan E=mc2

    Ah tak sebanding dengan momen cintaku…

    Pertama kali bayangmu jatuh tepat di fokus hatiku

    Nyata, tegak, diperbesar dengan kekuatan lensa maksimum

    Bagai tetes minyak milikan jatuh di ruang hampa

    Cintaku lebih besar dari bilangan avogadro…

    Walau jarak kita bagai matahari dan Pluto

    saat aphelium

    Amplitudo gelombang hatimu berinterfensi dengan hatiku

    Seindah gerak harmonik sempurna tanpa gaya pemulih

    Bagai kopel gaya dengan kecepatan angular

    yang tak terbatas…

    Energi mekanik cintaku tak terbendung oleh friksi

    Energi potensial cintaku tak terpengaruh oleh tetapan gaya

    Energi kinetik cintaku = -mv~

    Bahkan hukum kekekalan energi tak dapat

    menandingi hukum kekekalan di antara kita

    Lihat hukum cinta kita

    Momen cintaku tegak lurus dengan momen cintamu

    Menjadikan cinta kita sebagai titik ekuilibrium yang sempurna

    Dengan inersia tak terhingga

    Takkan tergoyahkan impuls atau momentum gaya

    Inilah resultan momentum cinta kita…

  2. Tiga minggu yang lalu…

    Untuk pertama kalinya kulihat kau berdiri tegak lurus lantai

    Kulihat alismu yang berbentuk setengah lingkaran dengan diameter 4 cm

    Saat itulah kurasakan sesuatu yang lain dari padamu

    Kurasakan cinta yang rumit bagaikan invers matriks berordo 5×5

    Satu minggu kemudian aku bertemu kau kembali…

    Kurasakan cintaku bertambah,

    bagaikan deret divergen yang mendekati tak hingga

    Limit cintaku bagaikan limit tak hingga

    Dan aku semakin yakin,

    hukum cinta kita bagaikan

    hukum kekekalan trigonometri sin2+cos2 = 1

    Kurasakan dunia yang bagaikan kubus ini menjadi milik kita berdua

    Dari titik sudut yang berseberangan,

    kau dan aku bertemu di perpotongan diagonal ruang

    Semakin hari kurasakan cintaku padamu

    bagaikan grafik fungsi selalu naik yang tidak memiliki nilai ekstrim.

    Hanya ada titik belok horizontal yang akan selalu naik

    Kurasakan pula kasihku padamu

    bagaikan grafik tangen (90o < x < 270o)

    Namun aku bimbang…

    Kau bagaikan asimtot yang sulit bahkan tidak mungkin kucapai

    Aku bingung bagaikan memecahkan soal sistem persamaan linear

    yang mempunyai seribu variabel dan hanya ada 100 persamaan

    Bahkan ekspansi baris kolom maupun Gauss Jordan pun tak dapat memecahkannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *