Seperti Roda

Hari ini saya cukup merasakan berbagai perasaan. Saat adzan subuh berkumandang, saya langsung terbangun dan langsung mengucapkan rasa syukur karena diberi kesempatan untuk melewati hari. Entah mengapa mendadak saya ingin memeluk mama saya yang tadi subuh duduk di samping ranjang untuk membangunkanku. Saat kupeluk tubuhnya, saya merasakan kedamaian.

Saat waktu sudah menunjukan jam 7, saya berniat melayat adikku Abdul Aziz Muslim yang baru kemaren berpulang. Ada rasa sedih saat datang ke pemakamannya. Air mata ini sulit untuk ditahan keluar. Sangat sulit melepas seorang adik yang hebat. Sungguh singkat pertemuan kita berdua dik, mungkin memang Allah lebih merindukanmu. Semoga kamu diberikan tempat yang indah disana dik. Darimu teteh belajar akan kematian yang tak pernah kita duga kapan datangnya. Membuat teteh teringat bekal yang baru sedikit teteh lakukan untuk mempersiapkannya datangnya hari itu.

Sepulang dari pemakaman, saya dan teman-teman langsung menuju kembali ke Salman. Sesampainya disana, ternyata ada adik LS Jati yang kebetulan adalah adik bimbel saya berulang tahun. Sungguh sangat kontras. Setiap detik ada yang pergi dan datang. Ada yang meninggal ada pula yang baru lahir. Ulang tahun adik saya yang satu ini dapat menghilangkan sejenak kesedihan saya.

Dan pada sore harinya seperti biasa saya latihan Syirul Grul yang mengeluarkan keringat yang cukup banyak. Dan saat saya pulang kerumah dengan menggunakan angkutan umum, saya melihat langit sore yang sangat indah dan hangat. Hari seakan ingin menutup dengan senyuman.

Lelah, sedih, bahagia, berjaya, senang, jenuh akan kita rasakan dalam hidup ini. Seperti roda yang berputar, waktu pun juga akan selalu berputar. Ada kalanya kita sedih dan adakalanya kita bahagia. Apapun rasa yang kita alami, waktu akan tetap berputar. Dan yang sudah terjadi akan berlalu dan harus berlalu.

 

Satu tanggapan pada “Seperti Roda”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *