Rasa sayang yang tak terucap

Rasa sayang yang tak terucap – Cerita ini sih saya tulis ketika saya masih SMA alias masih jaman alay-alaynya, sebenarnya cerita ini terinspirasi dari seorang teman, bukan pengalaman pribadi lho ya…

Selamat menikmati

Rasa sayang yang tak terucap

Sejak kecil aku bersahabat dengan Akmal. Akmal tinggal di sebelah rumahku. Akmal adalah laki-laki yang selalu membawa keceriaan. Kamar kami saling berhadapan. Sehingga jika aku membuka jendela, kamar Akmal terlihat jelas olehku. Aku selalu merasa nyaman di sampingnya. Setiap malam ia selalu menyanyikan lagu dengan gitarnya di jendela kamar untuk mengantarkan aku tidur. Dan di pagi harinya ia selalu mengucapkan selamat pagi padaku.

3 bulan yang lalu aku baru mengetahui kalau Akmal mengidap kanker darah. Dia sama sekali tak pernah menangis. Dia menghadapi ini semua dengan tegar. Dia selalu berusaha ceria di depan orang.

Sore itu, setelah menemaninya ke dokter, aku menemaninya pergi ke puncak. Kita berdua duduk di rerumputan. Akmal memandang matahari terbenam dengan tatapan lurus ke depan. Aku hanya bisa memandanginya.

“Setelah lulus aku ingin sekali kerja di Jepang sebagai ahli IT disana.”

“Kamu pasti bisa ke Jepang, kamu kan orangnya pintar.”

“Kata dokter keberhasilan operasinya hanya 30%,” katanya sambil tetap memandang ke depan.

“Yang penting kan masih ada harapan,” jawabku sambil tetap memandanginya.

“Kamu tahu Naya? Setiap kali matahari terbenam, aku merasa takut, takut hari esok aku tidak bisa melihat matahari lagi,” Akmal meneteskan air mata. Baru pertama kali ini aku melihat Akmal sangat rapuh, “Aku takut Nay, aku takut,” lanjutnya sambil mengalihkan pandangannya kepadaku.

Saat itupun aku meneteskan air mataku lalu memeluknya, “Kamu tidak usah takut, I’m always beside you,” jawabku.

Saat itu aku tidak ingin melepas pelukan itu, karena aku takut kehilangan Akmal. Aku ingin menghentikan waktu pada saat itu. Agar tidak ada masa depan ataupun masa lalu. Yang ada hanya sekarang. Aku ingin terus berada di sampingnya.

Sesampainya kami di depan rumah, Akmal mengeluarkan sebuah kalung, yang liontinya menyerupai lumba-lumba. Ia memasangkan kalung itu ke leherku.

“Kamu simpan ini baik-baik ya, aku ingin kamu selalu memakai kalung ini kemanapun kamu pergi.”

Aku hanya menganggukan kepala dan air mataku kembali menetes. “Jangan nangis lagi dong,” Akmal menghapus air mata di pipiku. Aku memeluknya kembali sambil menangis di dadanya, “Sudah, besok kamu harus kuliah pagi kan? Nanti kamu kesiangan lagi.”

Aku mengangguk dan segera masuk ke rumah. Lalu beranjak ke kamar dan membuka jendela kamarku. Aku melihat Akmal sedang duduk di depan jendela kamarnya sambil memainkan gitarnya. Air mataku terus mengalir, aku tidak bisa menghentikan air mataku.

“Apa besok kita masih bisa bertemu?” tanyaku tersedu-sedu.

Akmal hanya menjawab dengan senyuman, “Selamat malam, aku tidak akan tidur sebelum memastikan kamu sudah tidur.”

Aku segera menutup jendela dan mematikan lampu kamar. Aku berusaha tidur dengan air mata yang masih mengalir.

Rasa sayang yang tak terucap

Keesokan harinya Akmal dibawa ke rumah sakit untuk di operasi. Tetapi harapan tinggal harapan. 3 hari setelah operasi, Akmal meninggal di malam yang tak berbintang. Kamar Akmal kini dijadikan gudang oleh orang tuanya. Sebelum kamar itu menjadi gudang, ibunya menyuruhku untuk melihat kamarnya. Dan di kamarnya ada foto-fotoku dan di bawahnya ada sebuah tulisan,

Wanita yang paling aku cinta

Aku menangis saat membaca tulisan itu. Dan di atas meja ada sebuah kotak yang ukurannya cukup besar. Aku membuka kotak itu dan ternyata isinya adalah sejuta kenanganku bersama Akmal.

Entah sejak kapan rasa sayangku ini tumbuh. Tapi aku yakin Akmal bisa merasakan apa yang aku rasakan. Karena aku bisa merasakan apa yang Akmal rasakan walaupun tak pernah terucapkan.

Kini tiada lagi alunan lagu pengantar tidurku. Takkan ada lagi keceriaan yang selalu menghiburku. Takkan ada lagi ucapan selamat pagi dengan senyuman hangat dari Akmal. Kini yang ada hanyalah kenangan. Kenangan yang takkan pernah pudar oleh waktu. Mungkin jasad Akmal telah meninggal, tetapi di dalam hatiku Akmal akan tetap selalu ada.

Simpan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *