Suka-duka Perempuan yang katanya Maskulin

Suka-duka Perempuan yang katanya Maskulin – Berawal dari tulisan teman saya semasa di Salman, Tristi dengan judul yang sama (untuk baca Klik: Disini). Serta obrolan malam bersama teman laki-laki saya (beneran temen bukan TTM or something like that ya). Jadinya saya tertarik untuk menulis Suka-duka Perempuan yang katanya Maskulin dalam versi saya.

Saya teringat saat masih aktif di bangku perkuliahan yang sering melakukan hiking, Ketika melakukan survei, pasti teman-teman membawa satu atau dua perempuan untuk mengukur kemampuan dari sisi perempuan. Dan datanglah saya di survei tersebut, dan kata-kata yang sering saya dengar adalah:

Si Yuli mah ga bisa dijadiin tolak ukur kemampuan perempuan. Dia mah kemampuannya sama kayak laki. Bawa lagi perempuan yang lain

Suka-duka Perempuan yang katanya Maskulin – Terkadang terlintas di hati saya, “Ni orang-orang nggak inget apa ya kalo gue perempuan?” 😤😤 Tapi lama-lama pikiran itu hilang, dan saya mulai terbiasa dengan kata-kata itu.

Angkat-angkat barang yang cukup berat bukan hal aneh buat saya. Dan saya juga tidak tertarik meminta tolong kepada laki-laki, selama saya masih bisa melakukannya. Toh kalo emang mau bantu, mereka akan tergerak buat bantu tanpa bertanya. Itu baru cowok Gentleman. Menurut saya sih…😎😎 Hahaha…

Minta antar dan jemput juga bukan saya banget. Mending saya menggunakan angkutan umum atau sendirian jalan daripada harus merepotkan orang menjemput. Bahkan untuk perjalanan jauh, saya cukup sering melakukannya tanpa meminta bantuan seorang laki-laki untuk menjaga. Saya ingat saat masih di Bandung yang mengharuskan saya pulang malam, saya memilih pulang sendiri tanpa diantar. Ditambah memang tidak ada yang menawarkan diri. Hahaha… Ya sekali lagi, mungkin mereka lupa jika saya juga perempuan.

Sebenarnya jika dipikir-pikir bawaan “Maskulin” saya ini sudah sejak kecil. Almarhum papah saya selalu mewanti-wanti anaknya agar tidak tergantung pada orang lain. Jangan merepotkan orang lain. Dan jadilah saya seperti ini.

Walaupun saya “Maskulin” tidak berarti saya tidak mau berteman dengan perempuan. Saya punya banyak teman perempuan juga. Sekedar Ber-haha-hihi dengan mereka juga tidak masalah buat saya. Saya juga nggak alergi sama aktifitas perempuan seperti ke salon atau masak. Bahkan saya menanamkan diri jika seorang wanita se-maskulin apapun dia harus bisa masak. Ga harus jago, yang penting bisa.

Suatu saat, saya diharuskan “mendidik” adik-adik di suatu organisasi. Salah satu teteh memberi nasihat:

Laki-laki itu harus diajarkan untuk bertanggung jawab dan peduli. Kita ga mau kan adik-adik kita ini tumbuh menjadi laki-laki cuek yang tidak peduli sekitar. Turunkan standar kemandirianmu / kemaskulinanmu. Beri kesempatan mereka untuk bertanggung jawab dan peduli.

Akhirnya saya memberi kesempatan para laki-laki itu mengangkat barang-barang berat dan memastikan teman-teman perempuannya sampai ke rumah dengan selamat ketika harus pulang malam. Jujur, sebenarnya itu menjadi pergejolakan yang cukup kuat terhadap saya. Karena tidak terbiasa. Akhirnya saya hanya “menyuruh” laki-laki itu berbuat seperti itu kepada yang lain, tidak ke saya. Tapi mereka mah pinter-pinter nan sholeh, Walau saya bilang tidak, mereka tetap membantu. Yess akhirnya aku dianggap perempuan. 🙌🙌🙌 Hahaha….

Maskulin bukan berarti nggak bisa manja-manja. Alhamdulillah, saya punya empat kakak. Dan sama merekalah saya bisa ber-manja-manja. Secara, anak paling kecil. Wajar dong kalo saya manja sama mereka.

Di usia yang sudah lewat dari seperempat abad ini, saya mulai mengasah ke”Feminin”an dalam diri. Mulai liat-liat tutorial make up, lirik-lirik warna lipstik, dan mulai care dengan penampilan. Selama itu tidak berlebihan, bukan masalah buat saya.

Dan balik lagi ke judul, Suka-duka Perempuan yang katanya Maskulin. Sukanya adalah saya bisa menjadi diri sendiri. Dengan prinsip-prinsip yang saya pegang sampai hari ini, saya tidak pernah menyesal dengan itu semua. Dukanya, terkadang alias sering orang menganggap saya bukan seorang perempuan. Heiiii…. Aku juga wanita Tauuuuuu….😑😑

Suka-duka Perempuan yang katanya Maskulin – Harapan saya sama persis seperti teman se-maskulinan saya, Tristi (kangen aku sama kamu 😘😘😘) dalam judul tulisan yang sama:

Aku ingin hidupku utuh, diseimbangkan olehNya dengan berbagai sarana apapun, baik dengan kelajanganku maupun kebersandinganku. Baik dengan maskulinitasku, maupun feminitasku.

 

 

Suka-duka Perempuan yang katanya Maskulin
Suka-duka Perempuan yang katanya Maskulin: Bisa tebak kan saya yang mana? 😅😅 Nyomot foto di ig ki_balikpapan sama temen2 dokum tercintahhh 💓😍

 

2 thoughts on “Suka-duka Perempuan yang katanya Maskulin”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *