Cerita 200917: Maju Duluan

Saya terlibat pembicaraan cukup serius tadi malam. Lagi-lagi tentang jodoh, Hahah… 😅😅😅 Nampaknya memang obrolan ini selalu jadi topik utama, apalagi berkumpul dengan para jombloers. Tadi malam salah satu sahabat bagai menjadi narasumber, karena sudah mendapatkan pasangan. Rata-rata pembicaraan ini sering kita dengar, masih berkisar sabar, ikhlas, menunggu dan menjajaki takdir. Yeah, secara teori memang mungkin banyak yang sudah khatam. Tapi tidak dengan praktek. Mempraktekkannya memang tidak semudah teori, tapi tidak ada yang tidak mungkin. Sulit, tapi mari kita berpasrah kepada takdir itu sendiri.

Sahabat saya bertanya, “kenapa tidak maju duluan?” Yeah, memang tidak ada salahnya maju duluan, seperti ibunda Khadijah ra. Tapi menurut saya, kasus ini harus dilakukan ketika kita yakin pada perasaan kita. Jika ragu, maka tidak perlu dilakukan. Kata ragu disini bukan karena takut “ditolak” maupun takut patah hati. Saya rasa ini urusan yang berbeda dan perlu diketahui, kalo kita punya perasaan cinta maka kata patah hati itu harus kita persiapkan. Kata yakin disini yang saya maksudkan adalah ya perasaan kita sendiri. Apakah “Klik” dengan dia, apakah yakin dia yang kita inginkan untuk menjadi pasangan kita. Karena boleh jadi itu hanya emosi sesaat. Peer yang harus kita selesaikan terdahulu ya diri kita sendiri. Kenalilah dirimu, kenalilah perasaanmu. Jika sulit, maka minta petunjuk pada Allah.

Dan yang tidak kalah penting adalah mari berusaha “menjemput dengan cara yang benar”. Cara yang dicintai oleh Allah SWT. Ini bagian yang tidak boleh ditinggalkan menurut saya. Bukan berarti disini saya selalu ada di jalan yang “benar” lho ya. Well, saya juga manusia biasa yang sering salahnya. Saya hanya berusaha sebisa mungkin bersikap se-“porsi”-nya saja. Jujur tingkat “kegengsian” saya agak tinggi dan ga mau dibilang cewek “kegatelan” atau “gampangan.” Hahaha…. 😅😅😅😅 Maafkan jika kata-katanya agak kasar. So, bersikaplah “Elegan”, inget kata “Elegan” disini juga harus sesuai porsinya. Porsinya segimana sih? Tiap orang punya nilai porsi yang beda-beda. Sekali lagi, kenalilah diri dan kenalilah porsi-porsinya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *