Cerita 100917: Belajar Bersyukur

Cerita 100917: Belajar Bersyukur – Kemarin saya mengikuti kajian muslimah Ustad Salim A Fillah di Islamic Centre Balikpapan. Subhanallah banyak sekali akhwat-akhwat berkumpul menjadi satu dengan tujuan mencari ilmu salah satunya adalah Belajar Bersyukur. Sejujurnya cukup lama saya tidak hadir di majelis ilmu karena bebrbagai aktivitas. Bener-bener PeeR besar banget deh kalau masalah manajemen waktu. Oke balik lagi ke bahasan kajian, Ustad Salim membahas tentang Syukur. Berikut beberapa point yang saya catat, selamat menikmati….

Syukur adalah ekspresi keimanan kita dikala mendapat nikmat.

Syukur di dalam Al Quran di ulang sebanyak 75 x. Begitu pula dengan kata bala/musibah, di dalam AlQuran juga diulang sebanyak 75x.

Syukur adalah separuh dari iman, dan separuhnya lagi adalah sabar.

Belajar bersyukur dan sabar sangat erat hubungannya. Dua kata ini saling melengkapi. Contohnya, saat kita mendapat Rezeki yang melimpah, kita akan bersyukur. Tapi di balik itu semua kira harus bersabar dalam menggunakan rezeki itu agar bisa digunakan dengan baik. Begitu pula sebaliknya, saat kita sedang diuji, maka kita akan bersabar. Dan di balik itu semua, ada rasa nikmat beribadah yang bisa kita rasakan karena biasanya seseorang yang sedang mendapat musibah akan mendekat kepada Allah.

Maka, seorang mukmin keadaannya akan selalu baik. Karena jika diberi nikmat dia bersyukur dan jika diberi ujian dia akan bersabar. Jika kita merasa bukan mukmin yang baik, mungkin rasa syukur dan sabarnya harus lebih dibanyakin.

Dan bersyukur paling tinggi adalah men-tauhidkan Allah SWT.

Jika bersyukur maka:

1. Sadar akan kebesaran Allah, dan betapa kecilnya manusia.

2. Menyebut nama Allah. (Ustad menyarankan untuk membaca istigfar sebanyak-banyaknya)

3. Menggunakan nikmat yang telah diberikan untuk hal-hal yang diridhoi Allah.

Adapun doa bersyukur disebutkan pada QS. Al Ahqaf(46):15

وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَانًا ۖ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهًا وَوَضَعَتْهُ كُرْهًا ۖ وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلَاثُونَ شَهْرًا ۚ حَتَّىٰ إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي ۖ إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ
(Bahasa Indonesia)

Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri”.

Satu tanggapan pada “Cerita 100917: Belajar Bersyukur”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *