Akhwat, Yuk Bereksplorasi part 2

Ada yang sudah baca tulisan saya sebelumnya? Kalo belum, silahkan baca dulu biar nyambung sama tulisan di part 2 ini. Jadi, kisahnya setelah saya posting tulisan “Akhwat, yuk Bereksplorasi”, tanpa diduga menimbulkan pro dan kontra dari beberapa pihak |tsah gaya betul, padahal mah da aku mah apah atuh 😂😂😂😂|. Ada beberapa yang komen di media sosial saya, ada yang langsung japri saya. Baik yang kenal saya maupun tidak. Dan kebanyakan komen seolah-olah menganggap saya tidak setuju dengan “Nikah Muda”. 

Ada beberapa yang perlu saya jelaskan disini. Pertama, postingan saya sebelumnya ini, bukan tulisan saya. Saya hanya copas dari salah satu chatting di grup WhatsApp. Saya juga sudah sebutkan dalam postingan saya. Kedua, saya bukan ahli agama, bukan ustadzah, ilmu saya masih rendah banget. Jadi kalo minta dalil-dalil, jangan ke saya, silahkan ke ahlinya. Saya suka share tulisan orang lain, berarti saya sepakat dengan pemikirannya. Apakah pemikiran saya selalu benar? Tentu saja tidak. Ketiga, saya bukan penganut paham yang menolak “nikah muda”. Bahkan saya sangat salut sama orang-orang yang bisa “nikah muda”. Secara saya aja belum nikah |Lha, kok curhat? 😅😄😆|

Kembali pada tulisan Akhwat yuk Bereksplorasi, yang ingin saya tegur pada tulisan ini adalah jomblo-jomblo yang galau ga jelas. Dear Jomblo-ers, pelissss jangan kebanyakan galau. Banyak hal yang bisa kalian kerjakan. Percayalah penantian juga adalah ibadah. Mari diisi dengan ibadah sebaik-baiknya. Lakukan apa yang kalian suka, tanpa melupakan tujuan yang sesungguhnya. Ibaratnya gini, kalian mau naik ke atas puncak, tapi kalian nggak bisa liat gimana wujudnya puncak dan nggak tau berapa lama akan sampai ke puncak. Kalo kalian cuma diem aja, mikir dengan berbagai khayalan, kalian nggak akan pernah sampai ke puncak. Yang bisa kalian lakukan kumpulkan segala informasi dan BERGERAKLAH!!! Hadapi apa yang sudah ada di depan mata.

Dear kalian yang suka nanya “kapan nikah?”, terima kasih karena kalian sangat perhatian sekali sama kami para jomblo-ers. Semoga perhatian kalian tidak hanya sampai pada pertanyaan, tapi juga dengan doa dan usaha membantu menuju kesana.

Dear kalian yang suka ditanya “kapan nikah?”, jangan gampang ngambek kalo ditanya. Anggap saja mereka sebagai pengingat agar kita bisa mulai merencanakan bagaimana kita akan menuju dan menjalani pernikahan. Percayalah, pasanganmu dan anak-anakmu membutuhkan seseorang yang “Pintar dan Cerdas”, dan orang itu adalah kalian. Apalagi perempuan, kudu dan harus bisa multitasking.

Nah, semoga tulisan ini tidak membuat kesalah pahaman lagi ya…

Saya mohon maaf jika tulisan saya ada yang tidak berkenan.

Semoga tali silahturahmi kita tetap terjaga ya…

Akhwat, yuk Bereksplorasi

Gimana nggak bete?

Selepas fenomena anak gantengnya ustad nikah umur 17 tahun beberapa waktu lalu, banyak akun-akun yang BUKANNYA ngajak perempuan untuk lebih produktif biar lebih berguna bagi sesama, malah bikin konten galau dan mendorong perempuan agar buru-buru menikah.

Dengar ladies, WE CAN DO SO MUCH THINGS, better than membiarkan diri kita terpengaruh sama embel-embel “halalkan atau tinggalkan”.
Oke lah, we do believe marriage is completing half of our deen, tapi nikah bukan balapan yang harus diburu-buru. Syarat dan ketentuan berlaku!
Kenapa nggak lebih mengarahkan perempuan untuk mengejar pencapaian-pencapaian mereka? 

Tulang rusuk nggak bakal tertukar guys, itu udah takdirnya ALLAH.

Ingat, perempuan adalah madrasah pertama kelak buat anak-anaknya.

Perempuan butuh banyak explore ilmu pengetahuan, butuh banyak belajar keterampilan, wawasannya harus luas biar nantinya BISA MENDIDIK generasi penerus yang cerdas, serta harus pandai mengelola keuangan supaya nggak stress di akhir bulan.

Perempuan kan kalau statusnya udah resmi “istri” otomatis bertransformansi jadi ahli ekonomi.
The point is, mau nikah umur berapapun, ya itu pilihan. 

Tapi mbo ya jangan menggencarkan nikah muda dengan cara-cara yang salah, yang kadang dibalut label dakwah dan membuat banyak perempuan di luar sana jadi galau nggak jelas pengin segera di-khitbah.

Dan yang ngeri, karena ngebet nikah tapi masih labil, banyak kasus cerai karena bahtera yang mereka jalani diterpa badai tanpa tau cara menangani.

Pernikahan ibarat gunung es, di bawahnya jelas banyak masalah tapi justru kadang nggak dibahas mendalam. 

Padahal masalah basic semisal problem finansial atau pengendalian emosi kedua belah pihak yang masih mirip bocah merupakan hal krusial.

FYI, data dari peradilan agama tahun 2015 menunjukkan angka perceraian di Indonesia meningkat selama 5 tahun terakhir dari level angka 59%.
Nikah BUKAN CUMA sekedar buat melegalkan pegangan tangan, ciuman, ena-ena dengan dalih ibadah, pokoknya more than just making sex HALAAL. 

Ini pernikahan, bukan mau terjun macem bungee jumping.

Berbekal ‘nekat’ saja nggak bakal bisa beli susu bayi, popok, deterjen, tagihan listrik, cicilan mobil, nabung umroh dan haji, kecuali situ mau nekat nodong kasir minimarket atau kasir pln.

Ya kali -_-”
However, buat kamu-kamu yang sudah menikah dalam usia yang terbilang muda: SELAMAT!

Kamu sungguh sangat berani menempuh tahap kehidupan bersama pasanganmu (dan mungkin juga anak-anak kalian).

Semoga kalian selalu diberkahi.

Mungkin masalah yang dihadapi kalo dua orang jadi satu bakal lebih kompleks, tapi itu akan tercover oleh kebahagiaan lebih besar yang dirasain oleh mereka, bila dibanding kita-kita yang masih single. 
And then buat kamu-kamu yang sok galau pengen dikhitbah, coba deh, yakinkan hati, beneran udah siap atau cuma disiap-siapin.

Kalau beneran udah siap, congrats! 

Mudah-mudahan pangeranmu lekas mendatangimu.

Kalau ternyata belum, santai cyin, hidupmu masih panjang, main dulu ke Reykjavik, atau Wageningen, atau dolan-dolan ke danau labuan cermin di Kalimantan. 

Atau mau sekolah ambil magister maupun doktoral boleh banget tuh.

Btw, dulu di Pakistan sana, ada gadis remaja, si Malala Yousafzai, dia sampai ditembak sama Taliban karena memperjuangkan hak-hak perempuan untuk bersekolah. 

Lah ini, kamu mosok udah hidup enak di negara yang mendukung pendidikan buat perempuan, malah galau karena Allah belum mempertemukan pangeranmu.
Jangan larut dalam galau lah, coba buka  An Nuur 26. 

Gimana? Udah mendingan?

Perempuan cerdas adalah untuk lelaki cerdas pula.

Eksplorlah sebanyak mungkin tentang dunia, sebelum kamu menikah, maka anak-anakmu akan terlahir dari rahim ibu yang cerdas.

Plus, suamimu berhak mendapatkan pasangan hidup yang mampu berjuang bersama menopang keutuhan rumah tangga dengan pengetahuan dan pengalamannya.
I tell you, ini bukan kok sebab kena pengaruh paham liberal atau apa, sama sekali bukan.

Finally, banyak sekali ilmu pengetahuan yang sayang jika dilewatkan.

Banyak jenis orang yang patut diajak berbincang.

Dan juga sangat banyak tempat yang menarik serta asik untuk ditelisik.

Selamat bereksplorasi

Sumber Tulisan: dari sebuah Group di WhatsApp