Prasangka

Izin share, semoga bermanfaat Renungan

Bismillahirrohmaanirrohiim..

Berbeda jauh dengan suasana kereta AC pada umumnya, kereta ekonomi non-AC Jabodetabek yang lumayan panas hawa dalamnya. Penumpang saling dempet berdempet. Kebanyakan berdiri. Saling berusaha menyeimbangkan tubuh agar tidak terbawa godaan gerbong yang kadang berguncang.

~
Seorang eksekutif muda, berdiri di antara mereka. Sesak-sesakan dengan penumpang lain. Pakaiannya adalah jas elegan. Keringat terlihat beberapa tetes. Cukup bersih. Setidaknya, beda jelas dengan lainnya.

~
Lalu, ia membuka HP Tablet Androidnya. Besar. Lebih besar tentu dibanding HP umumnya. Ia memang sedang ada chat penting dengan para donatur. Chat tentang dana untuk membantu orang-orang kebanjiran.

~
Semuanya menoleh padanya atau meliriknya. Apa batin mereka?

~
Di pintu, ada seorang pemuda lusuh membatin, ‘Huh, pamer dia dengan barangnya. Sudah tahu di kereta Ekonomi.’

Di belakang pemuda lusuh itu, seorang pedagang membatin, ‘Mentang-mentang sekali HP nya seperti itu dipamerkan. Sudah tahu di kereta Ekonomi.’

Seorang nenek-nenek membatin, ‘Orang muda sekarang, kaya sedikit langsung pamer. Naik kereta Ekonomi, pamer-pameran.’

Seorang emak-emak membatin, ‘Mudah-mudahan suami saya ga senorak dia. Norak di kereta Ekonomi bukanlah hal terpuji.’

Seorang gadis ABG membatin, ‘Keren sih keren, tapi ga banget deh sama gayanya. Kenapa ga naik kereta AC saja kalau mau pamer begituan?’

Seorang pencopet mengintai, ‘Ini penghinaan buat gue. Seenggaknya gue ga bakal nilep barang terang-terangan. Nape ni orang ga naek kereta AC aje si? Pamer segala!’

Seorang pengusaha membatin, ‘Sepertinya dia baru kenal ‘kaya’. Atau dapat warisan. Hhh…andai dia merasakan jerih pahit saya jadi pengusaha; barang tentu saya tidak akan pamer barang itu di kereta Ekonomi. Kenapa tidak naik AC saja sih?’

Seorang ustadz kampung melirik, ‘Andai dia belajar ilmu agama, tentu tidak sesombong itu. Urusan pamer, naiklah ke kereta AC.’

Seorang pelajar SMA membatin, ‘Gue tau lo kaya. Tapi plis deh, lo ga perlu pamer gitu kalle’ ke gua. Gua tuh ga butuh style elo. Kalo lo emang pengen diakuin, lo bisa out dari sini, terus naik kereta AC. Kalo gitu kan, lo bisa pamer abis. Di sono mah comfort gila. Ill feel gue.’

Seorang tentara membatin, ‘Nyali kecil, pamer gede-gedean. Dikira punya saya tak segede itu. Kalau mau belagak pamer, pamer sekalian di kereta AC.’

Seorang penderita busung lapar membatin, ‘Orang ini terlalu sombong, ingin pamer di depan rakyat kecil. Padahal kereta untuk orang semacam ini adalah kereta AC, bukan kereta ekonomi yang isinya rakyat kecil.’

Seorang mahasiswa di kampus ternama membatin, ‘Gue ga tega orang begini idup. Gue agak heran, ni orang nyawanya berape. Belagu amaat! Pengen banget gue usir biar die naik kereta AC aja.’

~
Si eksekutif muda tersenyum. Ia menyimpan Tabletnya di tas. Pikirannya hanya terfokus pada dana. Ia tersenyum   membatin, ‘Alhamdulillah, akhirnya para donatur bersedia membantu semuanya. Alhamdulillah. Ini kabar baik sekali.’

~
Lalu, ia sempatkan melihat kantong bajunya. Secarik tiket kereta Ekonomi di dalamnya.

Ia bergumam, ‘Tadi sempat tukaran karcis dengan seorang nenek tua yang mau naik kereta sesak ini. Tidak tega saya. Biarlah dia yang naik kereta AC itu. Mudah-mudahan selamat.’

-Persepsi-

Maha benar firman Allah swt yg mengatakan bahwa sebagian besar prasangka itu dosa,,,

99 Cahaya

Baru saja saya membeli 5 tiket 99cahaya di langit Eropa. Yang film pertamanya berhasil membuat saya penasaran dengan novelnya. Walau ada beberapa perbedaan antara film dan novel, so far so goodlah. Katronya saya adalah saya baru nyadar bahwa sang penulis adalah salah satu anak dari Bapak Amien Rais #tepokjidat XD.
Selama mengantri tiket, kakak saya nyeletuk “Kalo cuma mau nyari 99 Cahaya mah ga usah jauh-jauh, da di Indonesia juga banyak, kitanya aja yang nggak peka”. Kalo dipikir-pikir benar juga kata kakak saya, di sekitar kita pasti banyak Cahaya-cahaya Islam yang belum terungkap. Andai saya seorang Ahli Sejarah, mungkin saya akan menulis 1000 Cahaya di Negeri Indonesia.

image
Mumpung lagi full team...

Si Penulis “Satu Nama”

Rasa-rasanya sudah sekitar 2 tahun yang lalu saya yang sedang hobi-hobinya menulis blog maupun blog walking. Dan salah satu dari ratusan blog yang saya follow ada tulisan berjudul “Satu Nama”. Saat membaca itu saya sangat tahu bahwa si penulis sedang menulis tentang saya. Bukannya Geer, itu terbukti saat saya konfirmasi ke si penulis. Di tulisan itu Si Penulis sangat penasaran sama saya yang sering terlihat di dunia maya. Penasarannya semakin jadi saat tidak menemukan foto saya yang memang jarang memasang foto asli. Baru-baru ini saja saya suka sedikit narsis XD .
Nah, ceritanya saya sekarang lagi suka-sukanya sama grup band yang namanya CN Blue. Apa hubungannya?? Ternyata eh ternyata saat melihat salah satu personil tepatnya yang nama Jung Shin, mirip sama Si Penulis. Entah kabar Si Penulis sekarang gimana, karena saat mengunjungi blognya sudah jarang diisi. Sebelum ‘menghilang’ saya sempat tahu bahwa dia lebih muda dari saya, dan akhirnya saya memanggil dia dengan sebutan “De” agar lebih akrab.
Lalu pikiran saya melayang jauh dari sebelum dia membuat tulisan itu. Yang ternyata sayalah yang duluan diam-diam “Melirik”nya. Lucunya saya baru sadar ternyata orang saya lirik itu adalah dia baru-baru ini. Saya ingat, saat itu adalah hari saya daftar kuliah. Ada seseorang yang tak jauh dari tempat duduk saya yang juga sedang menunggu antrian daftar kuliah sedang serius membaca sebuah buku. Entah kenapa saya sangat tertarik memperhatikannya. Tanpa berkenalan, tanpa tahu nama.
Sampai suatu saat saya kebetulan menjadi salah satu peserta mentoring terbaik saat itu. Pandangan saya melayang pada barisan depan peserta mentoring. Dan saya menemukan sosok yang pernah membuat saya penasaran. Saat itu pikiran saya langsung bilang, “Oh, dia anak informatika”. Karena saat itu mentoring digabung dengan jurusan Informatika.
Setelah itu, saya tidak pernah melihat dia lagi, dan akhirnya perlahan melupakan sosok yang membuat saya penasaran itu. Sampai akhirnya kita berkenalan lagi di dunia maya, lucunya saya nggak sadar kalo dia yang dulu membuat saya penasaran. Mungkin karena Si Penulis ini menunjukkan identitas Jurusan kuliah yang berbeda pada saya. Si Penulis bukan sengaja, tapi memang dia pindah Jurusan.
Gimana dengan Cerita selanjutnya? Apakah kita berdua masih saling penasaran? Sepertinya sudah tidak, karena sekarang banyak hal yang membuat saya penasaran. Dan nampaknya untuk saling bertemu sangat kecil. Sebelum menulis ini saya mencoba membuka efbenya dan sepertinya akun beliau sudah dihapus. Tapi saya mendoakan yang terbaik buat “Adik” yang saya kenal sekilas itu.
See You on The Top My Little Brother 🙂