Diam-diam

Pada hari itu sahabat-sahabat karib:
setengahnya akan menjadi musuh kepada setengahnya yang lain,
kecuali orang-orang yang persahabatannya berdasarkan taqwa (Iman dan amal Soleh)
QS Az-Zukhruf: 67

Cukup Taqwa menjadi alasan kita bersahabat. Bukan karena selera makan yang sama, hobi yang sama, ataupun berkegiatan di tempat yang sama. Tapi taqwa, Iman dan Amal Soleh. Cukupkah?

Ada seorang gadis, dia melihat ke sosial media sahabat karibnya yang saat ini sedang jauh. Terlihat foto-foto bersama sekumpulan teman-teman yang sama sekali tak dikenalnya. Sahabatnya tersenyum bahagia, seolah sudah melupakan gadis ini. Cemburu, mungkin itu yang bisa ditangkap dari gadis ini. Merindukan di masa-masa mereka bisa berdua, hanya berdua. Walau hanya sekedar menghabiskan eskrim bersama di tempat biasanya. Walau tanpa kata, tanpa bicara. Tak ada kata bukan berarti bisu, tak ada kabar bukan berarti lupa, dan tak menengok bukan berarti tak peduli.

Sahabat itu akhirnya tersenyum mengingat masa-masa indah bersama gadis itu. SahabatĀ  teringat saat gadis itu berceletuk “Hal yang paling membahagiakan di dunia ini adalah saat kita tahu bahwa orang yang kita cintai diam-diam mencintai kita”. Dan dulu mereka sepakat bahwa kata-kata itu benar. Tapi sekarang, sahabat itu mempunyai celetukan yang berbeda,

“Hal yang paling manis ialah ketika ada sahabat yang saling merindu, mereka tak saling memberi kabar. Tetapi secara diam-diam mereka saling mendoakan dalam setiap sujud”

 

2 thoughts on “Diam-diam”

  1. inget akyu ngga? Hihihi…

    iya, saling mendo’akan itu harus. Bisa jadi sahabat kita berperilaku buruk itu karena lupa kita do’akan kebaikan untuknya…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *