Kakak versus Adik

Kakak versus Adik – Cerita ini dibuat waktu saya masih SMA. Terinspirasi dari cerita salah seorang teman dan cerita dari buku chicken soup soul. Mau agak pamer dikit, cerpen ini yang membawa saya jadi juara 1 pada lomba yang diadakan 45+. Tapi yang dilombain versi bahasa Inggrisnya. Hoho selamat menikmati.

Kakak versus Adik – 1

Kejadian lima tahun yang lalu mungkin bukan hanya menorehkan luka pada tubuhnya. Kejadian itupun telah menorehkan luka di hatinya. Kaila itulah nama adikku. Seandainya saja lima tahun yang lalu aku tidak sok mengendarai mobil itu. Mungkin ia masih bisa berjalan, mungkin dia masih bisa berbicara, dan mungkin luka itu tidak akan membekas di tubuhnya maupun di hatinya. Kata dokter dia bisa saja berjalan maupun berbicara. Tetapi entah kapan karena kejadian itu terlah membuatnya trauma. Sejak kejadian itupun, Kaila sangat membenciku. Tabungan orang tuaku habis karena pengobatan Kaila yang begitu mahal.

Kakak versus Adik – 2

Kulihat jam dinding telah menunjukan jam 11.00, Kaila belum pulang dari sekolahnya. Aku memperhatikan pintu kamar Kaila, dan aku tersadar beberapa hari ini dia sering mengurung diri di kamar. Kubuka pintu kamarnya, mataku menerawang ke isi kamarnya. Dan aku baru menyadari betapa tidak rapihnya kamar ini. Satu per satu kurapihkan barang-barang yang ada di kamarnya. Kulihat sebuah sweater bewarna biru cerah yang belum selesai dibuat di atas meja, saat kuperhatikan secara seksama, tiba-tiba ada yang membuka pintu. Kulihat Kaila sudah ada di depan pintu kamarnya dengan kursi rodanya dan menunjukan mimik muka yang tak kusukai. Tapi kucoba untuk tersenyum.

“Maaf tadi pintu kamarmu terbuka, saat kulihat kamarmu berantakan, aku mencoba untuk merapihkannya,” akhirnya ada juga kata yang terucapkan dari mulutku kataku dalam hati.
Mimik mukanya tidak berubah saat aku mencoba berbicara. Tiba-tiba ia menghampiriku mengambil sweater yang sedang kupegang. Ia menunjukan telunjuknya ke pintu.
“Buatan kamu ya? Bagus banget lho! Tapi sayang, belum selesai seluruhnya, tapi aku yakin kamu bisa menyelesaikannya, ngomong-ngomong untuk siapa sweater ini?” kataku saat ia mengambil sweater itu.

Kembali lagi ia menunjukan telunjuknya ke arah pintu untuk mempertegas kemauannya yang menginginkan aku keluar dari kamarnya.
Kucoba sebisa mungkin untuk tersenyum, lalu akupun berdiri.
“Sebentar lagi aku akan pergi, kuharap kamu bisa mengantarku sampai bandara,” kataku sambil membelakanginya dan menahan air mata yang hendak keluar.
Lalu aku berlari ke luar menuju kamarku sambil menangis. Kubaca lagi surat beasiswa dari salah satu Universitas di London yang mengabariku bahwa aku mendapatkan beasiswa.
Sejak kecelakaan itu, orang tuaku bekerja keras untuk mencari uang. Biaya sekolah jaman sekarang sangatlah mahal. Aku ingin sekali membantu mereka dengan cara bekerja, hanya saja mereka melarangku dan menyuruhku untuk belajar dengan baik. Semenjak itu aku bertekad untuk mendapatkan beasiswa. Tetapi saat aku telah mendapatkan kesempatan itu, rasa ragu dan bimbang berada di dalam pikiranku. Kulihat tiket yang menunujukkan keberangkatan untuk hari esok. Dan air mataku tetap keluar seakan tidak bisa berhenti.

Kakak versus Adik – 3

Keesokan harinya…

Kulihat Fariz sedang mengangkat koper-koperku ke dalam mobilnya. Aku menyalami kedua tangan orang tuaku. Mataku melihat ke arah pintu kamar Kaila, berharap ia keluar dan memelukku. Tapi mungkin harapan itu tidak akan terwujud.

“Nak Fariz titip Keysha ya!” kata ibuku saat mengantarku ke depan rumah.
“Siap bu… saya janji Keysha akan baik-baik saja di London.”
“Keysha, walaupun Fariz sudah menjagamu, kamu harus tetap bisa menjaga diri kamu sendiri,” kata ayahku sambil memelukku.
“Tenang saja yah… aku pasti bisa merawat diriku sendiri,” sembari melepas pelukan ayah.
Lalu aku memeluk ibuku, “Ayah, ibu Keysha mohon maaf atas kejadian lima tahun yang lalu, Keysha tahu luka itu masih membekas, kan?”
“Keysha, kejadian itu sudah lama berlalu, janganlah kau ingat-ingat lagi,” jawab ayahku.
“Iya Key, setidaknya jadikanlah semua ini sebagai pelajaran,” sambung ibuku.
“Key, ayo kita berangkat! Nanti ketinggalan pesawat,” Kata Fariz.
“Maaf ayah dan ibu tidak bisa mengantarmu ke bandara, masih banyak yang harus dikerjakan,” kata ayah.
“Iya yah, Keysha mengerti,” aku mengambil sesuatu di tasku, “Bu, tolong berikan ini kepada Kaila,” kuberikan sepucuk surat pada ibuku.
“Baiklah mama akan memberikannya.”
Fariz membukakan pintu mobilnya, akupun segera menaiki mobilnya. “Keysha pergi dulu, Assalamualaikum,” lalu mobilpun melaju.

Kakak versus Adik – 4

Belum seratus meter mobil Fariz berjalan, aku mendengar ada orang yang memanggil namaku. Saatku cari sumber suara itu, ternyata Kaila sedang berlari mengejar mobil Fariz. Kulihat dia tersandung dan terjatuh. Aku menyuruh Fariz untuk segera menghentikan mobilnya, segera aku turun dari mobil lalu berlari ke arah Kaila.
“KAILA!” teriakku. Aku berusaha untuk mengangkatnya. “Kaila kamu tidak apa-apa?” tanyaku. Tetapi ia tidak menjawab, dia memelukku.
“Kaila sayang sama kak Keysha… Kaila tidak membenci kak Keysha…” jawabnya sambil tersedu-sedu.
“Kakak juga sayang sama kamu,” akupun ikut menangis dan membalas pelukannya. “Kamu sudah bisa berjalan dan berbicara?”
“Sebenarnya beberapa hari ini aku terus berlatih di kamar untuk bisa berjalan dan berbicara,” kupeluk lagi badannya.
“Kakak minta maaf, karena kakak telah membuatmu tidak bisa berjalan, tidak bisa berbicara dan memberimu bekas luka yang tak pernah bisa hilang di lehermu.”
“Sudahlah kak, jangan dibahas lagi, itu hanya sebagian masa lalu,” jawabnya sambil melepaskan pelukan, lalu ia memberiku sebuah kotak.
“Apa ini?” tanyaku.
“Lihat saja!” jawabnya singkat.
Perlahan-lahan kubuka isi kotak itu. Ternyata isi dalam kotak itu adalah sweater yang berwarna biru muda yang pernah kulihat di kamarnya.
“Jadi ini buat kakak?”
Dia mengangguk, “Selain berlatih berjalan dan berbicara, aku juga berusaha membuat sweater itu.”
“Terima kasih adikku sayang.”
“Sama-sama kakakku tercinta,” kami berdua tersenyum.
“Key, nanti kita bisa telat lho!” Kata Fariz tiba-tiba.
“Udah kakak mendingan cepetan ke airport nanti telat lagi,” kata Kaila sambil melepas pelukannya. “Kakak harus bisa membanggakan keluarga di sana, sedangkan disini Kaila akan berusaha membuat mama papa bangga dengan kemampuan Kaila.”
“Iya, kakak janji.”
“Kaila ikut aja ke bandara nanti biar Pak Sugeng yang mengantarkan Kaila pulang, gimana?” Tawar Fariz.
“Iya, Kaila ingin ikut ke bandara,” jawab Kaila dengan senyumannya yang manis.
“Okey, kita let’s go to airport,” jawab Fariz sambil mengulurkan tangannya padaku dan Kaila.
Kini aku bisa tersenyum lega karena sebelum pergi, adikku kembali menjadi anak yang periang. Walaupun sekarang jarak antara aku dan adikku jauh, tetapi aku merasa dekat dengannya, lebih dekat dari sebelumnya.

Simpan

5 thoughts on “Kakak versus Adik”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *